Kota Jambi, Sentralinfo.com – Suasana perayaan Idul fitri 1447 Hijriah, tradisi saling berkunjung ke Saudara, Kerabat, maupun ke Handai Taulan untuk mempererat Silaturahmi, masih terasa hangat ditengah Masyarakat.

Momentum kebersamaan ini tidak selalu diwujudkan dalam acara formal, tetapi juga hadir dalam kegiatan sederhana yang sarat makna, seperti permainan domino yang digelar penuh keakraban di kediaman Sahrial, bertempat di Kelurahan Talang Jauh, Kecamatan Jelutung, Kota Jambi, Jumat (27/3/2026).

Dalam suasana santai namun penuh kehangatan, dua meja domino menjadi ajang berkumpul. Di Meja 1, pasangan Firdaus dan Ikbal berhadapan dengan Jefri bersama Sahrial, yang juga bertindak sebagai tuan rumah. Sementara itu, di Meja 2, pasangan Papi Icon dan Babe beradu strategi melawan Dedi Zamora yang berpasangan dengan Sholeh Rofiki.

Permainan berlangsung seru, diselingi tawa dan canda yang mencairkan suasana. Tak ada sekat di antara para peserta, semua larut dalam kebersamaan yang menjadi inti dari silaturahmi itu sendiri. Domino pun bukan sekadar permainan, melainkan jembatan yang menghubungkan kembali hubungan sosial setelah sebulan penuh menjalani ibadah Ramadan.

Reza, yang sehari-hari menjabat sebagai Ketua SIWO PWI Provinsi Jambi dan turut hadir di kediaman Sahrial, menilai kegiatan seperti ini memiliki nilai lebih dari sekadar hiburan. Menurutnya, kebersamaan yang terbangun dalam momen sederhana tersebut justru menjadi fondasi penting dalam kehidupan bermasyarakat.

Ia berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan sebagai bagian dari tradisi yang mempererat hubungan sosial antara awak media dan masyarakat, sehingga tercipta komunikasi yang lebih harmonis dan saling memahami.

Pasca Idul fitri memang menjadi waktu yang tepat untuk memperkuat kembali nilai-nilai kebersamaan. Tradisi seperti ini menjadi pengingat bahwa silaturahmi tidak selalu harus melalui kunjungan resmi, tetapi bisa hadir dalam bentuk interaksi sederhana yang tulus dan menyenangkan.

Lebih dari sekadar menang atau kalah, yang terbangun adalah rasa persaudaraan. Di tengah kehidupan yang semakin individualistis, momen seperti ini menjadi oase yang menyejukkan—menghadirkan kembali makna kebersamaan yang sesungguhnya.

“Salam balak enam, semangat kebersamaan yang terus hidup dari hati ke hati kita semua, minal Aidin wal Faizin, mohon Maaf Lahir dan bathin,” ungkap Reza. (*)